Friday, November 15, 2013

Heran

Hari ini malam Sabtu, hari terakhir bekerja untuk mereka yang punya jatah mengais rezeki di ibukota dari Senin sampai Jumat. Saya salah satunya.
Waktu menunjukkan satu setengah jam sebelum tengah malam, tapi saya masih belum sampai di rumah juga. Rumah di kota hujan yang saya sambangi seminggu dua kali, atau lebih kalau memungkinkan.

Sudah 45 menit lebih saya duduk sampai pegal di commuter line jurusan Bogor. Beruntung saya dapat duduk, akhirnya terkantuk2 sampai segerombolan orang masuk ke dalam kereta. Gerombolan yang lantas menarik perhatian saya.

Ada 3 perempuan dewasa, 6 anak kecil, dan 2 remaja. Saya ingat salah satu dari anak kecil tersebut. Familiar karena selama 4 tahun saya kuliah, entah sudah berapa kali saya melihat dia.

Anak itu pengamen kereta Bogor-Jakarta.

Waktu saya baru masuk kuliah, dia mungkin sekitar umur 6 tahun. Dia selalu didampingi kakak laki2nya. Berdua mereka mondar mandir gerbong kereta ekonomi waktu itu, sambil menyodorkan bungkus bekas makanan, untuk para penumpang menyisihkan recehan.

Sekarang anak perempuan ini sudah tumbuh besar. Mungkin umurnya sekarang 10 tahun? Mukanya tidak banyak berubah, malah mungkin tidak ada yang berubah darinya.

Dia masih membawa2 kotak andalannya. Kotak dengan speaker di depan yang mengeluarkan musik, yang suaranya bahkan mengalahkan deru kereta.

Sekarang kereta ekonomi Bogor-Jakarta sudah ditiadakan. Saya bertanya2, sekarang dia ngapain? Lahan pekerjaannya hilang. Meskipun sebetulnya tidak seharusnya juga dia bekerja.

Anak2 yang lain lebih kecil daripada anak perempuan ini. Biasa lah anak2, sedang asyik bercanda tiba2 sedetik kemudian berkelahi. Katakanlah si anak berbaju kuning. Tiba2 dia dicubit oleh sang kakak-gemes mungkin-dan dia marah.
Meneriakkan kata kasar penghuni Ragunan. Memukul2 sang kakak.

Saya mengerutkan dahi.

Orang dewasa yang bersama mereka diam saja. Yah, tidak bisa menyalahkan anak2 itu, kalau mereka misbehave. Mungkin mereka rasa itu wajar, bukan perbuatan yang tidak sopan.

Lalu tentang si remaja. Penampilannya sangat sederhana, malah terbilang lusuh. Sendal jepit yang dipakai mungkin sendal jepit andalan. Tapi lalu saya lihat  di tangannya dia menggenggam sebuah smartphone.

Lagi2 saya mengerutkan dahi.

Udah gak ngerti lagi.

Kata2 itu yang biasanya terucap. Ya, saya gak ngerti. Sebuah ironi yang saya tak akan pernah mengerti.

Sekarang mereka sudah turun di stasiun kedua sebelum stasiun akhir. Tinggal saya lanjut sampai tujuan akhir, dan masih terheran-heran...

No comments: