Tuesday, January 5, 2010

ARSITEKTONIK

Arsitektonik atau architectonic memiliki pengertian :

struktur logis yang diberikan oleh akal (terutama melalui pemanfaatan pembagian berlipat-dua dan berlipat tiga), yang harus digunakan oleh filsuf sebagai rencana untuk mengorganisasikan isi sistem apa pun.

Berdasarkan etimologi, istilah arsitektonik atau architectonic berasal dari :

- Dalam Bahasa Latin yaitu architectonicus

Artinya dari, berhubungan dengan, atau sesuai dengan prinsip-prinsip arsitektur

- Dalam Bahasa Yunani yaitu architektonikos, dari architektōn

Artinya terorganisir dan memiliki struktur terpadu yang menyarankan sebuah desain arsitektur.

Tektonika berasal dari kata tekton dan sering ditulis sebagai kata tektonamai dalam bahasa Yunani yang secara harafiah berarti pertukangan kayu atau pembangun.

·               Dalam bahasa Sansekerta, istilah ini dapat disamakan dengan kata taksan yang juga berarti seni pertukangan kayu yang menggunakan kapak.
·                Istilah yang sama juga ditemukan dalam puisi Vedic yang juga berarti pertukangan kayu.
·               Kemudian dalam Homer istilah ini diartikan sebagai seni dari konstruksi secara umum.
 
               Dengan perjalanan waktu, pengertian kata tektonik pada konstruksi cenderung membuat karya seni, tergantung pada benar atau tidaknya penerapan tingkatan kegunaan nilai seninya.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai arsitektonik menurut beberapa tokoh :

· Kenneth Frampton (1995) dalam bukunya Studies in Tectonic Culture, menyebutkan bahwa tektonika berasal dari kata tekton dan sering ditulis sebagai kata tektonamai dalam bahasa Yunani, yang secara harfiah berarti pertukangan kayu atau pembangun. Dalam bahasa Sansekerta dapat disamakan dengan kata taksan yang juga berarti seni pertukangan kayu yang menggunakan kapak.

· Adolf Heinrich Borbein pada tahun 1982 (Frampton, 1995) pada studi Philologi nya yang mengatakan bahwa tektonika menjadi seni dari pertemuan atau sambungan; seni dalam hal ini ditekankan pada tekne, sehingga tektonika ternyata bukan hanya bagian dari bangunan tetapi juga obyek atau sebagai karya seni pada arti yang lebih sempit.

· Penggunaan istilah tektonika secara arsitektural dipakai di Jerman dan muncul di buku pegangan karya Karl Otfried Muller berjudul "Handbuch der Archeologie der Kunst” (Handbook of the Archeology of Art) 1830,yang mendefinisikan tektonik sebagai penggunaan sederet bentuk seni pada peralatan, bejana bunga, pemukiman dan tempat pertemuan, yang dibentuk dan dikembangkan di satu sisi pada penerapannya dan di sisi lain untuk menguatkan ekspresi perasaan dan pengertian atau buah pikiran seni.

Tektonika pada arsitektur sering kali dilakukan karena ingin memberikan penekanan pentingnya suatu bagian tertentu dari bangunan dan keinginan mengekspresikan sesuatu perasaan yang mendalam pada bangunan.

· Karl Botticher dalam bukunya The Tektonic of Helen 1843 dan 1852, menginterpretasikan kata tektonik sebagai pemberi arti pada sistem ikatan yang lengkap dari semua bagian kuil Yunani menjadi keseluruhan yang utuh, termasuk rangka dari sculpture dalam segala bentuk.

Tahun 500 SM di Yunani diklaim sebagai masa munculnya (raison d ‘etre) tradisi arsitektur. Secara etimologi, kata arsitektur atau arche-tekton lahir dari tradisi Yunani. Dalam ranah metode berpikir Yunani terdapat pola pencampuran antara mitologi, mistisisme, dan matematika yang terangkum dalam ilmu filsafat Yunani. Dari dasar itulah terbentuk wujud arsitektur Yunani seperti arsitektur kuil tempat pemujaan terhadap dewa (kuil Parthenon), sistem proporsi matematis Golden Section yang lahir dari konsep Pythagoras serta kolom -kolom Doric, Ionic, Corinthian sebagai sistem simbol feodalisme Yunani.

· Sementara itu Semper mengklasifikasikannya pada bangunan menjadi dua prosedur yang mendasar, yaitu tektonika dari rangka ringan yang terdiri dari komponen-komponen linier dikelompokan membentuk matrik spasial dan stereotomik bagian dasar dimana massa dan volume terbentuk dari elemen-elemen berat.

· Pada tahun 1973 Eduard Sekter dalam Structure, Construction and Tectonics mendefinisikan tektonik sebagai ekspresi yang ditimbulkan oleh penekanan struktur dari bentuk konstruksi, dengan demikian hasil ekspresi tektonika tidak dapat diperhitungkan hanya sebagai istilah pada struktur dan konstruksi saja.


PENERAPAN ARSITEKTONIK DALAM ARSITEKTUR

Secara umum hubungan antara struktur dan konstruksi dengan arsitektur, dapat dibedakan menjadi dua. Yang pertama struktur hanya dipakai untuk keperluan mewujudkan rancangan sebuah bangunan. Elemen-elemen struktur hanya sebagai elemen penerus beban sedang karakteristik struktur tidak ikut memberikan nilai estetika arsitekturalnya. Sedang yang kedua adalah struktur terintegrasi dengan fungsi dan bentuk bangunan. Dengan demikian elemen-elemen struktur sekaligus adalah elemen-elemen arsitektural yang ikut serta memberikan nilai arsitektural.

Kemampuan menemukan bentuk-bentuk yang menarik dari elemen-elemen struktur untuk diterapkan dalam perancangan arsitektur mungkin akan memacu semangat untuk mempelajari struktur secara lebih dalam.

Aspek struktur dan konstruksi di satu sisi memang merupakan aspek teknik namun di sisi lain mempunyai aspek simbolik yang representatif. Biar bagaimanapun juga suatu karya arsitektur bisa diwujudkan dengan material yang memenuhi suatu persyaratan struktur diantaranya adalah ‘stabil’ (bisa berdiri) dan kuat (mampu menahan gaya-gaya yang bekerja) serta persyaratan lain yang kemudian akan dirinci oleh seorang ahli struktur (structural engineer).

Namun sebagai suatu karya seni, arsitektur seharusnya memberi perhatian lebih pada kreatifitas pengolahan bentuk elemen-elemen dari suatu sistem struktur yang diterapkan. Juga mempunyai pengenalan yang baik dan benar terhadap properti material bangunan sehingga arsitek dapat memilih secara tepat material yang hendak dipakai, sampai kepada memutuskan metoda konstruksi yang sesuai. Disinilah arsitek bicara dengan tektonika untuk membuat karya arsitektur menjadi lebih kreatif dan kaya akan makna.

Tektonika berperan memberi artikulasi pada mekanisme penyaluran beban dari elemen-elemen struktur. Pengolahan bentuk secara inovatif hingga menghasilkan potensi ekspresi bentuk arsitektural secara keseluruhan maupun ekspresi seni dari detail-detail sambungan dari konstruksi yang digunakan. Bentuk-bentuk yang dihasilkan merupakan bentuk-bentuk artistik yang mempunyai makna nilai seni, bukan hanya bentuk yang abstrak atau sekedar figurative bahkan mampu mengekspresikan simbolik filosofis dari bangunan.

               Istilah tektonika sepertinya masih kurang dikenal di lingkungan arsitektur. Tektonika erat kaitannya dengan material, struktur dan kontruksi, namun tektonika lebih menekankan pada aspek estetika yang dihasilkan oleh suatu sistem struktur atau ekspresi dari suatu konstruksi dari pada aspek teknologinya.
               Penggunaan istilah teknonika sudah dikenal sejak lama dan mengalami perkembangan seperti diungkap oleh Kenneth Frampton dalam buku-nya Studies in Tectonic Culture 1995. 
               Tektonika pada Arsitektur sering kali dilakukan karena ingin memberikan penekanan pentingnya suatu bagian tertentu dari bangunan dan keinginan mengekspresikan sesuatu perasaan yang mendalam pada bangunan. Sedang pada bukunya The Tektonic of Helen 1843 dan 1852, Karl Botticher menginterpretasikan kata tektonik sebagai pemberi arti pada sistim ikatan yang lengkap dari semuabagian kuil Yunani menjadi keseluruhan yang utuh, termasuk rangka dari sculpture dalam segala bentuk. 
               Sementara itu Semper mengklasifikasikannya pada bangunan menjadi dua prosedur yang mendasar, yaitu tektonika dari rangka ringan yang terdiri dari komponen-komponen linier dikelompokan membentuk matrik spasial dan stereotomik bagian dasar dimana massa dan volume terbentuk dari elemen-elemen berat.
               Pada tahun 1973 Eduard Sekter dalam Structure, Construction and Tectonics mendefinisikan tektonik sebagai ekspresi yang ditimbulkan oleh penekanan struktur dari bentuk konstruksi, dengan demikian hasil ekspresi tektonika tidak dapat diperhitungkan hanya sebagai istilah pada struktur dan konstruksi saja.
               Dengan memperhatikan berbagai pandangan dari para ahli tersebut diatas maka yang dimaksud tektonika pada Arsitektur dalam bahasan ini sebenarnya disatu sisi adalah pengembangan struktur yang digunakan untuk menghadirkan ruang. Sedangkan disisi yang lain adalah pengolahan sistim sambungan pada konstruksi sehingga meningkatkan ekspresi bangunan dengan menggunakan nilai seni.
               Teori tentang pembentukan ruang arsitektur dalam sejarah arsitektur Barat dapat didefinisikan, sejak Adolf Semper dalam karyanya yang berjudul Stillehre yang terdiri dari 3 bab[1]: 
1.            Teori bentuk dasar (archetypal form)
2.            Perkembangan historis dari prototip-prototip
3.            Pengaruh-pengaruh material teknis.

           

Dengan demikian estetika arsitektural tidak hanya dipandang sebagai komposisi bidang-bidang, tetapi juga dapat dikembangkan melalui struktur, material dan konstruksinya sebagai unsur tektonik yang menjadi the art of joining.
Lao Tze dalam puisi yang berjudul Tao The Chingmenjelaskan bahwa metode material dalam mencipta ruang arsitektural yakni : tektonik, stereotomik dan batas antara ruang internal dengan ruang eksternal.[2]
Adolf Heinrich Borbein dalam studi filosofisnya dalam Tektonik, zur Geschichte eines Begrifs der Archeologie", Archiv fur Begriffsgeschichte 26, no.l, tahun 1982 mengatakan bahwa:
 “’Art here is to be understood as encompassing tekne, and therefore indicates tectonics assemblage not only of building parts but also of objects, indeed of artworks in a narrower sense Here, however, lies the point of departure for the expanded clarification and application of the idea in more recent art history as soon as an aesthetic perspective -and not a goal of utility- is defined that specifies the work and production of tectonic, then the analysis consigns the term "tectonic" toan aesthetic judgment".[3]
Dengan demikian terdapat dua kriteria dalam mengkaji peranan konstruksi dalam untuk mencapai ide dan hasrat artistik ruang, yakni: pertama, kedalaman dan kekuatan pengaruh ketektonikan terhadap estetika ruang, kedua adalah estetika setiap bagian elemen konstruksi yang menjadi satu kesatuan obyek. Usaha perancang untuk mendematerialisasikan bahan dan struktur bangunan dengan memperlihatkan nilai-nilai kebenaran dari bahan tersebut tampak pada bagaimana struktur baja direpresen tas i kan secara terbuka menjadi bagian dari ornamentasi hasrat artitistik ruang yang kuat tanpa meniadakan atau menihilkan sifat bahan (kejujuran bahan), namun kejujuran yang diungkapkan dengan kerangka tektonik yang estetik yang sesuai dengan fungsi struktur. 
Kenneth Frampton mengatakan : "Tektonik harus dibuat dengan sifatnya melampaui logika dari kalkulasi, fakta memperlihatkan bahwa banyak perhitungan pada budaya bangunan modern hams mengakui perhitungan yang cermat dari insinyur sipil".[4]
Hal tersebut memperlihatkan bahwa struktur tidak hanya ditekankan pada faktor logika kalkulasi perhitungan dimensinya, namun lebih dari itu, struktur hendaknya memperlihatkan ekspresi dalam bangunan, serta memperlihatkan keindahan dalam setiap hubungan konstruksi antara bahan bangunan. 
 
               Tektonika bisa dimulai dari pemilihan sistem struktur bangunan yang tepat bagi karakter fungsi di dalamnya. 
Contoh :
-                Bangunan candi dibuat dengan struktur yang berat, massif, tertutup karena fungsinya yang dipakai untuk mewadahi kegiatan religi yang berkonsentrasi ke dalam, mendukung suasana magis dan sakral dari fungsi bangunannya.
-                Bangunan pendopo pada hunian tradisional Jawa dengan struktur rangka yang ringan dan terbuka mencerminkan keterbukaan pemilik rumah dalam menerima tamu dan juga pengaruh kondisi iklim setempat.
               Arsitek dapat menemukan sendiri bentuk bangunan melalui pengolahan sistem struktur berdasarkan tuntutan ekspresi arsitekturnya. Misalnya bangunan ibadah yang menuntut ekspresi bentuk yang agung dan sakral sehingga akan memunculkan banyak alternatif dalam pengolahan struktur, seperti munculnya bentuk gothic pada gereja, bentuk kubah pada masjid pada waktu itu.
               Tektonika juga berlanjut pada konstruksi dari elemen struktur, yaitu pada kolom-kolom, dinding-dinding, balok-balok, detail-detail sambungan. Untuk menghasilkan bentuk-bentuk tektonika yang baik, kepekaan terhadap material sangat penting dan menunjang inovasi struktur serta ekspresi bangunan secara keseluruhan. Mengenal dengan baik sifat-sifat material, baik secara teknis sebagai elemen pendukung beban maupun citra material untuk keperluran ekspresi bentuknya. 
               

Penerapan arsitektonik dalam arsitektur dapat dilihat jelas salah satunya pada rumah tradisional di Indonesia. Rumah tradisional Indonesia yang amat beragam telah menjadi lebih dari sekedar kebutuhan masyarakat Indonesia yang membutuhkan tempat bernaung, namun telah menjadi sebuah identitas dari tiap-tiap suku adat di Indonesia. Sehingga bukan hanya mendirikan rumah yang bisa berdiri kokoh sebagai tempat tinggal dan tempat berlindung, namun juga memperhatikan dari segi keindahan atau estetika rumah tersebut.

Sejak zaman dahulu, Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan beragam adat istiadat memiliki rumah adat yang menjadi ciri tiap suku. Dengan adat istiadat masing-masing, masyarakat Indonesia yang kental dengan prosesi adat dan kepercayaannya, mengaplikasikannya pada rumah tradisional mereka. Kita tidak hanya akan menemukan rumah tradisional yang memiliki bentuk dan ornamen yang memiliki nilai estetika tinggi, melainkan juga akan menemukan kemajuan masyarakat Indonesia masa lampau dalam bidang konstruksi. Dengan konstruksi sedemikian rupa, bisa menciptakan rumah tradisional yang indah sekaligus memiliki kekuatan struktur. sehingga dapat dikatakan, penerapan arsitektonik dalam arsitektur telah lama diaplikasikan oleh masyarakat Indonesia sejak masa lampau, terbukti dari rumah-rumah tradisional tersebut.

KESIMPULAN

               Pengetahuan dan pembelajaran tektonika yang berkaitan dengan seni mengolah struktur, konstruksi dan material dapat merupakan jembatan penghubung yang harmonis antara struktur dan konstruksi sebagai teknologi dengan penciptaan ruang dan bentuk arsitektur. 
               Didalam tektonika terjadi intergrasi antara struktur dan konstruksi dengan arsitektur. Bentuk-bentuk hasil tektonika merupakan ungkapan dari suatu nilai, kaya akan makna.
               Kenneth Frampton mengatakan, "Tektonik harus dibuat dengan sifatnya melampaui logika dari kalkulasi, fakta memperlihatkan bahwa banyak perhitungan pada budaya bangunan modern hams mengakui perhitungan yang cermat dari insinyur sipil". (Frampton, K., 1995, hal.: 335). 
               Hal tersebut memperlihatkan bahwa struktur tidak hanya ditekankan pada faktor logika kalkulasi perhitungan dimensinya saja, namun lebih dari itu, struktur hendaknya memperlihatkan ekspresi dalam bangunan, serta memperlihatkan keindahan dalam setiap hubungan konstruksi antara bahan bangunan.
               Pada intinya, tektonika dalam arsitektur bisa dikatakan merupakan sebuah seni penggubahan bentuk, dimana dalam menggubah sebuah bentukan memperhatikan aspek-aspek penting dalam arsitektur, yaitu Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas). Dalam hal ini, tektonika merupakan sebuah sistem yang mementingkan fungsi dari struktur sebuah bangunan, namun di samping itu struktur pada bangunan tersebut menjadi  aspek penting dalam menentukan estetika bangunan tersebut.
 
 
 RESOURCES

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&sl=en&u=http://www.merriamwebster.com/dictionary/architectural&prev=/search%3Fq%3Darchitectonic%26hl%3Did%26sa%3DG&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhjetCSLrQz8QseNWV-AHiPUjGfndA

http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/hp.html#main_map

http://arsitektur.net/

http://id.wikipedia.org/wiki/Halaman:Arsitektur

http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals/121

http://www.orientalscholar.com/OrientalScholar/pages/download.jsp?path=D:/osWorks/OrientalScholar/pubDirApproved/ProdiArsitektur/journals/JurnalArsitektur/sample/sample.pdf&fileName=sample.pdf.

wpyng@arch.nctu.edu.tw TECTONICS? A CASE STUDY FOR DIGITAL FREE-FORM ARCHITECTURE


Please give proper credit: disimplivity.blogspot.com

No comments: